Pembelajaran Mendalam Khas SMK sebagaimana digariskan oleh Pusmenjur / Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen — plus catatan dan tantangan dalam implementasinya:
Pengertian dan Landasan
-
Pembelajaran Mendalam Khas SMK adalah pendekatan pembelajaran yang memuliakan siswa, yakni menciptakan suasana belajar yang sadar, bermakna, menggembirakan, dan holistik — melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu.
-
“Khas SMK” menunjukkan bahwa pendekatan ini dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik pendidikan vokasi / kejuruan, yakni tidak hanya aspek pengetahuan umum tetapi juga kompetensi kejuruan yang relevan dengan industri.
-
Pendekatan ini selaras dengan program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) yang ingin memperkuat “pembelajaran mendalam” sebagai salah satu skema dalam memperkuat mutu pembelajaran vokasi.
Unsur dan Pendekatan Utama dalam Pembelajaran Khas SMK
Dalam dokumen Pusmenjur “Pembelajaran Mendalam Khas SMK”, terdapat beberapa unsur / pendekatan utama yang dijadikan pilar. Berikut ringkasannya:
| Unsur / Pendekatan | Penjelasan / Contoh |
|---|---|
| Pembelajaran Kejuruan | Fokus pada kompetensi teknis/kejuruan terkait jurusan siswa (misalnya kuliner, teknik, otomotif, dll).. |
| Kontekstualisasi Berbasis Kejuruan | Materi umum (misalnya matematika) dihubungkan dengan konteks kejuruan siswa agar relevan secara langsung dengan bidang kejuruan mereka. |
| Teaching Factory | Pembelajaran dilakukan dengan model pabrik kecil di sekolah, mirip produksi nyata (layanan/produk) agar siswa mengalami praktik langsung dalam suasana produksi. |
| Praktik Kerja Lapangan (PKL) | Kegiatan langsung di industri / dunia nyata agar siswa mendapat pengalaman kerja sesungguhnya. |
| Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan | Siswa dibekali kemampuan untuk ide kreatif, inovatif, dan berwirausaha berkaitan dengan kompetensi kejuruan yang dipelajari. |
| Pembelajaran Berbasis Mikrokredensial | Modul atau sertifikat mikro yang fokus pada kompetensi spesifik dalam bidang kejuruan (misalnya “Web Junior Programmer”) agar siswa dapat punya kredensial kompetensi mikro. |
| Pembelajaran Berbasis Proyek Multidisiplin | Proyek lintas bidang (misalnya tema lingkungan, teknologi, agribisnis) yang menggabungkan elemen dari berbagai mata pelajaran dan aspek kejuruan. |
Di dalam pelaksanaannya juga dipakai kerangka taksonomi SOLO (Surface-Deep-Transfer) untuk memandu bagaimana siswa naik dari tahap pemahaman permukaan, menjadi pemahaman mendalam, lalu penerapan atau transfer ke konteks baru.
Tujuan dan Harapan
Beberapa tujuan dan harapan yang dikemukakan:
-
Memaknai proses belajar secara mendalam, bukan sekadar menghafal atau menyelesaikan tugas semata.
-
Meningkatkan relevansi dengan dunia kerja / industri, agar lulusan SMK siap kerja, atau mampu wirausaha yang terkait dengan kompetensinya.
-
Pengembangan kompetensi guru & tenaga kependidikan agar mereka mampu menerapkan model pembelajaran mendalam, termasuk sertifikasi, pelatihan, atau magang industri.
-
Memperkuat kemitraan sekolah – dunia kerja/industri, agar praktek pembelajaran (Teaching Factory, PKL, dsb.) bisa relevan dan nyata.
-
Penyusunan / peninjauan profil lulusan dan materi uji berdasarkan standar industri agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan.
Hubungan dengan Program SMK Pusat Keunggulan
-
Program SMK PK (Pusat Keunggulan) memiliki salah satu skema bernama “Skema Penguatan Pembelajaran Mendalam” yang menitikberatkan pada penguatan cara-cara pembelajaran dengan pendekatan mendalam di SMK.
-
SMK yang menjadi penerima dalam skema ini diharapkan memenuhi beberapa kriteria seperti memiliki mitra industri, akreditasi minimum B, serta mendukung pengembangan keunggulan wilayah / industri lokal.
-
Dana bantuan diberikan untuk memperkuat kemitraan, pengembangan modul / materi mikrokredensial, peningkatan kompetensi guru dan pendidik, serta keterkaitan materi ujian kompetensi sesuai standar industri.
Tantangan dan Catatan Pelaksanaan
Meskipun konsepnya cukup ideal, dalam praktik ada sejumlah tantangan yang sering muncul:
-
Keterbatasan sarana dan prasarana: sekolah mungkin belum memiliki fasilitas memadai untuk Teaching Factory atau laboratorium praktik.
-
Keterbatasan kompetensi guru dalam merancang modul pembelajaran mendalam, alur tujuan pembelajaran (ATP), dan mengaitkan materi umum dengan konteks kejuruan.
-
Waktu pembelajaran yang terbatas, sehingga sulit mengakomodasi langkah-langkah pembelajaran mendalam (surface → deep → transfer) secara penuh.
-
Keterhubungan nyata dengan industri masih lemah di beberapa tempat, sehingga praktik kerja atau teaching factory kadang kurang relevan atau kurang “nyambung” dengan industri setempat.
-
Resistensi atau adaptasi terhadap perubahan: guru dan sistem pendidikan mungkin masih terbiasa pola lama (mengajar tradisional) sehingga butuh waktu adaptasi.
Studi kasus di SMK misalnya pada guru sejarah menunjukkan bahwa terdapat kesulitan dalam menyusun ATP yang sesuai dengan tujuan pembelajaran baru, kendala sarana media pembelajaran, dan alokasi waktu yang dirasa kurang.
Penjelasan lebih lanjut tentang Pembelajaran Mendalam Khas SMK, Catatan, Tantangan dan Implementasinya dapat dilihat di sini.
Jangan lupa tinggalkan pesan di kolom komentar, bila ada materi yang dibutuhkan
Dan untuk Bapak/Ibu yang tertarik di bidang kurikulum, bisa bergabung di WA Grub Forum Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMK Jawa Timur pada Link di bawah ini :
(1) Link WA Grub Forum #1 (Penuh)
(Pilih salah satu link dan WAJIB konfirmasi ke Admin)
Link WA Groub dapat di lihat di deskripsi judul blog ini.
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar